TintaSiyasi.id — Konsep khilafah menurut Syekh Taqiyuddin An-Nabhani seorang mujtahid dan ulama di Timur Tengah adalah kepemimpinan umum umat Islam di dunia untuk menegakkan hukum syariat dan Khilafah didasarkan pada Al-Qur'an, hadis, dan ijmak.
Ulama Aswaja K.H. Hafidz Abdurrahman, M.A. menegaskan, khilafah adalah ajaran Islam. "Khilafah itu bukan ide Hizbut Tahrir, tetapi ini adalah istilah yang lahir dari Islam," tuturnya dalam "Forum Isra Mikraj: Indonesia Berkah dengan Islam Kaffah", Senin (27-1-2025) di YouTube One Ummah Channel.
Ia mengutip surah Al-Maidah ayat 48.
وَاَنۡزَلۡنَاۤ اِلَيۡكَ الۡكِتٰبَ بِالۡحَـقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ مِنَ الۡكِتٰبِ وَمُهَيۡمِنًا عَلَيۡهِ فَاحۡكُمۡ بَيۡنَهُمۡ بِمَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰهُ
"Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah." (TQS. Al-Maidah: 48).
Ia menerangkan, dalam ayat tersebut ada perintah untuk menegakkan hukum Islam. "Apa maknanya? Artinya Nabi Muhammad saw. tidak hanya diberi amanah untuk melakukan menyampaikan risalah, tetapi juga diperintah untuk fahkum, agar menerapkan risalah itu. Oleh karena, itulah kemudian Rasulullah saw. mendirikan negara Islam di Madinah," jelasnya.
Ia menyampaikan, menerapkan Islam dalam bentuk negara yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw., yakni dengan sistem pemerintahan Khilafah Islamiah. "Apabila seseorang mengaku muslim, tetapi masih mempersoalkan istilah khilafah, maka orang tersebut tidak mengerti tentang apa-apa yang ada di dalam kitab sucinya dan sunah nabinya. Dengan demikian, bantahan-bantahan terhadap istilah yang mengatakan seolah-olah khilafah adalah rekayasa ulama dengan sendirinya batal,” terangnya.
Khilafah
Kiai Hafidz, sapaan akrabnya, menjelaskan, negara itu bukan fisik atau materi. "Syekh Taqiyuddin An-Nabhani menjelaskan tentang negara. Negara adalah institusi yang bersifat praktis untuk menjalankan mafahim, sekumpulan pemahaman; maqayyis, standarisasi; dan qanaah keyakinan yang diterima oleh umat. Hal ini yang harus dilakukan, bagaimana menyampaikan ke umat agar memiliki mafahim, maqayyis, dan qanaah Islam. Dakwah itu ya ini, mengembalikan keyakinan umat. Kalau ini sudah kembali, maka sesungguhnya negara itu otomatis akan berdiri," paparnya.
Ia menjelaskan, semua cara untuk mengembalikan khilafah itu dilakukan dengan dakwah, tetapi ini tidak bisa dilakukan sendiri. "Rasulallah saw. diutus sendiri, kemudian membangun hizbut rasul. Harus ada kelompok yang berhimpun untuk melakukan itu agar debu-debu yang menutupi keyakinannya (terhadap khilafah) harus dibersihkan. Sehingga mafahim, maqayyis, qanaah Islam kembali, umat itu akan tertaut dengan Islam," jelasnya.
Hari ini, lanjutnya, ada monsterisasi dan glorifikasi khilafah ini adalah ketakutan yang diciptakan. "Senjata yang paling berbahaya yang dihunus oleh para penjajah itu ada dua. Penyesatan berpikir dan politik. Ketakutan-ketakutan yang diciptakan itu bagian dari penyesatan dan umat terus dininabobokan. Proses menuju ke sana seolah-olah terjal dan ini yang harus dilawan dengan dakwah," tegasnya.
Dakwah, katanya, tidak hanya sendirian, tetapi dilakukan dengan berjemaah. "Rasulallah saw. juga melakukan dakwah berjemaah. Kalau dakwah berjemaah ini dilakukan, nanti tangan-Nya Allah akan bekerja bersama jemaah ini. Itu artinya apa? Kekuatan itu akan datang. Ini yang terjadi. Oleh karena itu, yang dilakukan Syekh Taqiyuddin An-Nabhani itu adalah mengembalikan apa yang Rasulallah saw. lakukan dahulu, yakni dakwah berjemaah sampai kekuasaan diserahkan kepada Islam," tuntasnya. [] Ika Mawarningtyas