Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

UIY: Penanaman Akidah Penting Sekali

Kamis, 03 April 2025 | 23:56 WIB Last Updated 2025-04-03T16:56:24Z

TintaSiyasi.id — Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto (UIY) menyampaikan, di sinilah pentingnya mendakwahkan akidah politik kepada umat hari ini. "Pangkalnya apa? Akidah. Penanaman akidah itu penting sekali, yaitu yang membawa kita kepada ketundukan kepada seluruh ketentuan Allah swt, bukan sekadar akidah yang membawa kita aspek ruhani yang bisa kita sebut akidah ruhiyah, tetapi harus mengantarkan kepada pemahaman akidah siyasiyah," jelasnya dalam "Forum Isra Mikraj: Indonesia Berkah dengan Islam Kaffah", Senin (27-1-2025) di YouTube One Ummah Channel. 

Akidah, paparnya, yang dimaksud adalah yang mengantarkan kepada pemahaman akan pentingnya diatur dengan sistem Islam. "Akidah ini akan membawa kita kepada keyakinan, hidup kita, masyarakat kita, bahkan dunia ini harus diatur dengan hukum Allah taala. Ini pakemnya dan ini yang jadi soal. Kalau dilihat memang orang-orang tidak mau masuk neraka, tetapi amalannya tidak sinkron dengan amalan-amalan yang bisa masuk surga," terangnya.
 
Ia mencontohkan, ingin masuk surga tetapi korupsi, sekuler, liberal, itulah mengapa dakwah Islam itu penting sekali. "Umat Islam ini sebenarnya sudah duduk di rel, hanya tinggal mendorongnya supaya maju. Ketika kita salah dalam menyampaikan Islam, umat Islam itu bisa macam-macam, ada yang kafah yang kita inginkan, ada yang sekuler, liberal, kapitalis, sosialis, dan komunis. Di sinilah pentingnya penanaman tauhid yang kukuh dan itu dengan acara seperti ini. Pendidikan formal sudah tidak bisa diharapkan lagi," jelasnya. 

Diciptakan

Menurutnya, hari ini seolah-olah memang diciptakan dan dikondisikan supaya umat itu takut kepada khilafah. "Ketakutan umat terhadap khilafah itu memang karena umat ditakut-takuti. Sebelumnya tidak pernah ada ketakutan semacam itu, karena dakwah yang disampaikan hari ini sama dengan yang disampaikan puluhan yang lalu, tidak ada yang berubah," tuturnya. 

Lanjutnya, salah satu penyebab ketakutan terhadap khilafah karena memang diciptakan oleh Barat, seperti dengan narasi atau propaganda yang menyerang Islam. "Ini hari, radikal dan radikalisme itu dianggap sebagai satu narasi yang dipakai untuk menyingkirkan dakwah Islam dan kesadaran Islam. Nah, apa yang harus kita lakukan? Kita harus menggencarkan dakwah. Jika sekolah atau kampus sudah tidak bisa diandalkan, maka ya diluar kampus seperti majelis taklim, seminar, diskusi, atau forum-forum semacam ini, dan sebagainya itu yang harus kita lakukan kepada seluruh elemen masyarakat," urainya. 

Menurutnya, ketakutan atau keraguan terhadap khilafah itu ada dua, ada ketakutan yang faktual, tetapi ada ketakutan yang diciptakan. "Nah yang ada pada ini hari, ketakutan pada khilafah adalah ketakutan yang diinsinuasikan (tidak secara terang-terangan). Seperti opini, jangan suriahkan Indonesia, khilafah itu akan mensuriahkan Indonesia. Itu kan baru, mau, akan, tetapi faktanya tidak ada," jelasnya. 

Ancaman

UIY menyampaikan, yang sebenarnya mengancam negeri itu itu bukan khilafah, tetapi memang negeri ini sudah terancam kapitalisme dan liberalisme. "Kesenjangan ekonomi atau sosial itu bukan timbul karena khilafah, bukan karena Islam, tetapi kapitalisme. Ancaman terhadap pergaulan bebas bukan dilakukan oleh Islam tetapi oleh liberalisme. Ancaman terhadap intervensi aseng maupun asing itu bukan oleh khilafah, bukan oleh Islam tetapi oleh kapitalisme oleh kekuatan-kekuatan global," bebernya.

Ia merasa aneh, jika ada yang takut dengan khilafah hari ini. "Jadi kenapa kok kemudian kita ini diajak untuk takut kepada sesuatu yang tidak ada? Sementara yang sudah ada malah seperti seolah hendak dilupakan. Yang pasti adalah tidak mungkin khilafah itu akan menghancurkan sebuah negeri. Karena dalam faktanya negeri-negeri yang dibebaskan oleh Islam itu menjadi negeri yang merdeka, damai, dan sejahtera," ungkapnya. 

Justru, tegasnya, ia menantang kepada siapa saja yang takut kepada khilafah untuk membuktikan secara teoritis dan empiris. "Misalnya ekonomi. Apakah mampu khilafah dengan sistem Islamnya menyelesaikan berbagai persoalan ini hari yang katanya berbeda dengan persolaan zaman dahulu? Bisa. Persoalan manusia sesungguhnya sama di setiap masa, karena dari sifat kemanusiaan tidak ada yang berubah," pungkasnya. [] Ika Mawarningtyas

Opini

×
Berita Terbaru Update