Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Nyalakan Hatimu dengan Akhlak Mulia, Seperti Api Dinyalakan dengan Kayu Bakar

Jumat, 04 April 2025 | 06:52 WIB Last Updated 2025-04-03T23:52:53Z

TintaSiyasi.id-- Sobat. Indah sekali ungkapan ini! Akhlak mulia adalah cahaya bagi hati, sebagaimana api tidak bisa menyala tanpa bahan bakar, begitu pula hati tidak bisa bersinar tanpa akhlak yang baik.
Makna Ungkapan Ini:

1. Akhlak Mulia adalah Sumber Cahaya Hati
• Hati manusia bisa redup karena dosa, kesombongan, dan keburukan.
• Akhlak yang baik seperti kayu bakar yang menyalakan cahaya kebaikan dalam diri.

2. Cahaya Hati Membimbing Kehidupan
• Hati yang bercahaya dengan akhlak akan memancarkan ketenangan, kebijaksanaan, dan kasih sayang.
• Orang yang berakhlak baik akan mudah mendapatkan kedamaian dan keberkahan hidup.

3. Akhlak Tidak Datang Sendiri, Tetapi Harus Dibangun
• Seperti api butuh kayu bakar, akhlak mulia juga harus ditanam dan dipelihara dengan ilmu, latihan, dan kesabaran.
• Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad)

4. Hati yang Bersinar Akan Menghangatkan Sekitar
• Api tidak hanya menerangi diri sendiri, tetapi juga memberikan kehangatan bagi orang lain.
• Orang yang berakhlak baik akan membawa manfaat dan kebahagiaan bagi lingkungan sekitarnya.

Kesimpulan
Jika ingin hati bercahaya, nyalakanlah dengan akhlak mulia. Jangan biarkan hati redup oleh kebencian atau kesombongan, tetapi panaskan dengan kesabaran, kejujuran, dan kasih sayang.
Sebagaimana api menyala dengan kayu bakar, hati yang dipenuhi akhlak akan bercahaya dan menerangi kehidupan.

Puncak Hikmah adalah Takut kepada Allah SWT.

Benar sekali! Puncak hikmah adalah takut kepada Allah (Khashyatullah). Ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan sejati tidak hanya berasal dari ilmu, tetapi juga dari kesadaran akan keagungan dan kekuasaan Allah.
Dalil dan Makna Takut kepada Allah sebagai Puncak Hikmah

1. Al-Qur’an Menyebutkan bahwa Takut kepada Allah adalah Tanda Ilmu Sejati
• "Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu." (QS. Fatir: 28)
• Artinya, semakin dalam ilmu seseorang, semakin tinggi pula rasa takutnya kepada Allah.

2. Takut kepada Allah Bukan Ketakutan yang Melemahkan, tetapi yang Membimbing
• Bukan ketakutan negatif, melainkan rasa hormat, cinta, dan kesadaran akan keagungan-Nya.
• Rasa takut ini mencegah seseorang dari berbuat maksiat dan mendorongnya untuk selalu berada di jalan yang benar.

3. Buah dari Hikmah yang Sesungguhnya
• Hikmah sejati bukan hanya memahami dunia, tetapi memahami tujuan hidup dan akhirat.
• Orang yang memiliki hikmah akan menyadari bahwa kehidupan ini fana dan akhirat adalah tujuan utama.

4. Mengarahkan Seseorang kepada Akhlak yang Mulia
• Takut kepada Allah menjadikan seseorang lebih jujur, amanah, dan rendah hati.
• Ia akan selalu merasa diawasi Allah dalam setiap langkahnya.

Kesimpulan
Jika ingin meraih puncak hikmah, bangunlah rasa takut kepada Allah dalam hati. Rasa takut ini akan menjaga hati tetap bersih, menjauhkan diri dari dosa, dan membawa kehidupan yang lebih tenang dan penuh keberkahan.

Sebagaimana Imam Al-Ghazali berkata:
"Hikmah sejati adalah mengetahui di mana posisi kita di hadapan Allah dan bertindak sesuai dengan kehendak-Nya." 

Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)

Opini

×
Berita Terbaru Update