Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mudik dan Transportasi Nyaman Dalam Islam

Rabu, 02 April 2025 | 09:54 WIB Last Updated 2025-04-02T02:55:02Z

Tintasiyasi.id.com -- Jelang berakhirnya bulan Ramadhan, ada satu tradisi di negeri ini yang dinanti sebagian besar umat muslim, yaitu mudik ke kampung halaman. Pemerintahpun sudah mengeluarkan kebijakan untuk momen spesial ini, yaitu pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) dan diskon tiket mudik, diantaranya harga tiket pesawat diturunkan sebesar 13 persen, tiket kereta api diturunkan 25 persen, hingga diskon tarif tol sebesar 20 persen.

Namun sayangnya kebijakan ini belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat pada transportasi umum. Salah satu buktinya yaitu dengan menjamurnya fenomena travel gelap yang menjadi pilihan sebagian masyarakat.

Bahkan menurut pengamat transportasi Djoko Setijowarno, maraknya travel gelap mencerminkan kegagalan pemerintah untuk menyediakan layanan angkutan umum yang merata hingga pelosok daerah.
“Ini bukan inovasi, melainkan bukti kebutuhan masyarakat akan transportasi yang belum terpenuhi oleh pemerintah,” (Liputan6, Minggu 23/3/2025).

Dalam pengaturan kapitalistik, transportasi dikelola untuk meraih keuntungan. Walaupun ada kebijakan diskon tiket mudik, namun diskon ini tidak merata diberlakukan untuk semua jenis transportasi.

Diskon hanya berlaku untuk tiket pesawat, kereta api, dan tarif tol. Padahal kita ketahui bersama, bahwa sebagian besar masyarakat masih menggunakan jenis transportasi umum yang lain, misal bis dan kapal. Sehingga "wajar" di tengah tingginya permintaan untuk mudik, bermunculan travel gelap untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Di sisi lain tidak meratanya infrastruktur dan fasilitas umum, mendorong sebagian besar masyarakat untuk mencari pekerjaan di kota. Kondisi ini menjadikan tradisi mudik sebagai sebuah tradisi yang tidak bisa dielakkan, karena momentum Lebaran menjadi sarana berkumpul dengan kerabat yang tinggal di kampung.

Selain problem di atas, tidak dipungkiri jika problem kemacetan dan kecelakaan masih menjadi PR besar yang belum tuntas diselesaikan. Sehingga ini menambah kuat fakta betapa buruknya tata kelola transportasi di negeri yang berlandaskan sekuler kapitalistik.

Problem tahunan ini perlu jalan keluar yang solutif, agar masyarakat bisa merasakan terpenuhinya kebutuhan transportasi yang aman dan nyaman.

Tata Kelola Transportasi Dalam Islam

Sebagai sistem hidup yang sempurna, Islam mempunyai jalan keluar yang solutif untuk problem mudik. Dalam Islam, kepemimpinan adalah amanah untuk melayani masyarakat, bukan meraup keuntungan sebagaimana dalam paradigma sekuler kapitalistik. 

Sehingga dengan konsep melayani umat inilah akan diusahakan untuk membangun transportasi publik yang aman, nyaman, berbiaya murah (bahkan gratis) dan tepat waktu. Serta yang tidak boleh dilupakan adalah pembangunan infrastruktur yang sesuai dengan perkembangan teknologi, dan merata baik di perkotaan hingga pelosok desa.

Terkait anggarannya akan diambilkan dari Baitul Mal yang mempunyai banyak pos pemasukan, salah satunya dari tata kelola SDA sesuai syariah Islam, dan hasilnya disalurkan lagi untuk memenuhi hajat masyarakat (diantaranya transportasi publik). Infrastruktur menjadi salah satu kebutuhan masyarakat yang wajib dipenuhi oleh negara, karena menjadi sarana dalam aktivitas sehari-hari.

Jika dana dari Baitul Mal tidak mencukupi, maka negara akan menarik dharibah (semacam pajak) pada individu muslim yang kaya. Ketika pungutan dharibah belum juga mencukupi, maka negara akan berhutang tanpa riba. Demikianlah mekanisme anggaran dalam timbangan syariah Islam dalam memenuhi kebutuhan publik akan infrastruktur dan transportasi.

Pelayanan pada umat sebagaimana dicontohkan oleh kepemimpinan Umar bin Khattab. Beliau berkata, "seandainya ada seekor keledai terperosok di kota Baghdad karena jalan rusak, aku sangat khawatir Allah akan meminta tanggungjawabku di akhirat."

Inilah bentuk kepedulian seorang pemimpin, bahkan untuk tataran hewan saja sangat diperhatikan, apalagi manusia. Kemudian terkait pemerataan pembangunan, kaum muslimin bisa belajar dari peradaban Islam di Baghdad dimana waktu itu masyarakat tidak perlu menempuh jarak jauh untuk bekerja, memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan menuntut ilmu. 

Karena semua kebutuhan tadi jika diatur dengan Islam, maka akan bisa dijangkau dengan perjalanan kaki yang wajar, dan tentunya ada jaminan kualitas juga. Inilah kesempurnaan Islam untuk menjamin keamanan dan kenyamanan transportasi publik. Sangat berharap makin banyak kaum muslimin yang menyadari konsep ini dan bersemangat untuk mewujudkannya.[]

Oleh: Dahlia Kumalasari
(Pendidik)

Opini

×
Berita Terbaru Update