Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Mengendalikan Hawa Nafsu

Sabtu, 05 April 2025 | 20:34 WIB Last Updated 2025-04-05T13:37:04Z
TintaSiyasi.id -- Bebaskan (jiwa Anda) dari sifat-sifat kemanusiaan Anda, yaitu sifat-sifat yang bertentangan dengan penghambaan Anda, agar mudah bagi Anda menyambut panggilan Allah Yang Mahabenar dan mendekatkan diri ke hadirat-Nya. Nasihat Ibnu Athaillah.

Ungkapan ini mengandung pesan spiritual yang mendalam, mengajak kita untuk melepaskan sifat-sifat manusiawi yang menghalangi penghambaan sejati kepada Allah. Dalam konteks tasawuf, "sifat-sifat kemanusiaan" yang dimaksud adalah kecenderungan egois, hawa nafsu, kesombongan, cinta dunia berlebihan, dan segala hal yang menjauhkan kita dari Allah.

Bagaimana Cara Membebaskan Jiwa dari Sifat-sifat Kemanusiaan 
yang Menghalangi Penghambaan?

1.  Mengenali Diri dan Hawa Nafsu
• Imam Al-Ghazali berkata, "Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya."
• Merenungi kelemahan dan kecenderungan buruk dalam diri adalah langkah awal untuk berubah.

2. Mengendalikan Ego dan Kesombongan
• Allah berfirman dalam QS. Al-A’raf: 146, "Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda (kebesaran)Ku."
• Rendah hati dan menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Allah membantu kita untuk lebih dekat kepada-Nya.

3. Menghilangkan Ketergantungan Berlebihan pada Dunia
• Dunia hanyalah tempat persinggahan. Jika kita terlalu terikat, kita akan sulit menyambut panggilan Allah dengan ikhlas.
• Meneladani zuhud (hidup sederhana) bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi tidak menjadikannya tujuan utama.

4. Berserah Diri kepada Allah (Tawakal)
• Bebaskan jiwa dari kecemasan dunia dengan yakin bahwa semua sudah diatur oleh Allah.
• QS. At-Talaq: 3, "Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya."

5. Mendekatkan Diri kepada Allah dengan Dzikir dan Ibadah
• Dzikir membersihkan hati dari kotoran dunia.
• Shalat khusyuk menjadikan hati tunduk sepenuhnya kepada Allah.

6. Memaafkan dan Membersihkan Hati dari Dendam
• Hati yang penuh dendam sulit mendekat kepada Allah.
• Memaafkan orang lain membantu kita mencapai ketenangan jiwa.

Kesimpulan

Melepaskan sifat-sifat kemanusiaan yang negatif adalah jalan menuju maqam (derajat) yang lebih tinggi dalam ibadah. Ketika hati sudah bersih, akan lebih mudah menyambut panggilan Allah dan merasakan kedekatan dengan-Nya.

Pangkal segala ketaatan, kesadaran, dan keterjagaan dari keharaman adalah pengekangan terhadap hawa nafsu.

Ungkapan ini menunjukkan bahwa mengendalikan hawa nafsu adalah kunci utama untuk mencapai ketaatan, kesadaran, dan keterjagaan dari hal-hal yang diharamkan. Dalam banyak ajaran tasawuf dan hikmah para ulama, hawa nafsu sering kali dianggap sebagai penghalang utama dalam perjalanan spiritual menuju Allah.

Mengapa Mengendalikan Hawa Nafsu Itu Penting?

1. Hawa Nafsu adalah Sumber Ujian Terbesar
• Allah berfirman dalam QS. An-Nazi’at: 40-41, "Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya."
• Ini menunjukkan bahwa mengendalikan hawa nafsu adalah jalan menuju keselamatan.

2. Tanpa Kendali, Nafsu Akan Membawa pada Kemaksiatan
• Hawa nafsu yang tidak dikendalikan bisa membuat seseorang tergoda oleh dunia, mengikuti syahwat, dan melupakan Allah.
• Imam Al-Ghazali berkata, "Nafsu itu seperti anak kecil, jika tidak kau latih, ia akan terus menyusu."

3. Mengontrol Nafsu Membuka Jalan Ketaatan
• Orang yang bisa menahan diri dari keinginan yang berlebihan akan lebih mudah taat kepada Allah.
• Mereka lebih disiplin dalam ibadah dan tidak mudah tergoda oleh godaan dunia.

Bagaimana Cara Mengendalikan Hawa Nafsu?
Menahan Diri dari Syahwat yang Haram
• Menghindari makanan, harta, dan perbuatan yang diharamkan.
• Melatih kesederhanaan dalam gaya hidup agar tidak diperbudak oleh keinginan duniawi.
Memperbanyak Puasa
• Rasulullah ﷺ bersabda: "Puasa adalah perisai (dari godaan hawa nafsu)." (HR. Bukhari & Muslim).
• Puasa melatih diri untuk menahan keinginan dan membangun kesabaran.
Memperbanyak Dzikir dan Tadabbur Al-Qur’an
• Dzikir membantu menenangkan jiwa dan mengendalikan dorongan nafsu.
• Al-Qur’an adalah petunjuk yang membantu membedakan mana yang baik dan mana yang berbahaya bagi hati.
Menjaga Lingkungan dan Pergaulan
• Nafsu mudah tergoda oleh lingkungan yang buruk. Berada di sekitar orang saleh membantu kita lebih kuat dalam mengontrol diri.
Mengembangkan Kesadaran akan Kehidupan Akhirat
• Mengingat kematian dan kehidupan setelah mati membantu kita tidak mudah tergoda oleh kesenangan sesaat.
• Ibnu Athaillah berkata: "Bagaimana mungkin hati akan bercahaya jika gambar dunia masih melekat dalam cerminnya?"

Kesimpulan

Mengendalikan hawa nafsu adalah pintu menuju ketaatan dan kesadaran spiritual. Tanpa pengendalian diri, seseorang akan mudah tergelincir ke dalam dosa dan lalai dari Allah. Oleh karena itu, melatih jiwa

Dr. Nasrul Syarif M.Si.  
Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana  UIT Lirboyo

Opini

×
Berita Terbaru Update