Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Memetik Buah Ramadhan

Sabtu, 05 April 2025 | 06:38 WIB Last Updated 2025-04-04T23:38:30Z

TintaSiyasi.id -- Alhamdulillah, kini umat Islam dalam suasana 'idul fitri' kembali ke fitrah, bersih putih tak bernoda. Bagai anak yang baru lahir ke dunia ini. Karena memang di bulan Ramadhan Allah 'obral pahala dan ampunan' untuk hamba-Nya yang istiqamah melakukan ibadah dengan baik dan benar.

Dalam hadis disebutkan, 'Barang siapa puasa Ramadhan dengan dilandasi iman dan ihtisab yakni semata-mata mengharap pahala dari Allah, diampunilah dosa yang telah lalu' ( HR. Bukhari dan Muslim).

Sama juga jika 'qiyam Ramadhan' dengan iman dan ihtisab, dosanya diampuni Allah (hadis). Apalagi kalau bertaqarub di 'sepuluh akhir Ramadhan' bisa dapat fadhilah 'lailatul-qadar' pahalanya lebih baik 1000 bulan atau 83 tahun lebih. Masyaallah.

Seyogyanyalah setiap Muslim menjadi insan-muttaqiin' manusia yang bertakwa kepada Allah 'azza wata'ala. Insan yang siap menjalan perintah-Nya dan sedia meninggalkan larangan-Nya 

Di bulan penuh berkah ini kita umat Islam telah ditempa dan dilatih secara intensif untuk menjadi orang baik. Berbagai amal ibadah dilaksanakan, baik ibadah 'mahdhah' seperti puasa, shalat, baca Al-Qur'an, zikir dan lainnya, maupun 'ibadah sosial' seperti sedekah, silaturahim, zakat, infaq, dan lainnya.

Untuk itu, pasca Ramadhan ini diharapkan kita bisa menjadi orang shalih, baik 'shalih individual' maupun 'shalih sosial', sehingga benar-benar berproses menjadi 'insan muttaqiin', manusia yang bertakwa kepada Allah SWT.

Dan takwa inilah misi puasa Ramadhan sebagaimana firman Allah SWT :

يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا كُتِبَ عَلَيۡکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (TQS Al-Baqarah: 183).


Takwa Buah Ramadhan

Kata takwa atau takwa berasal dari kata waqâ, yang berarti melindungi. Yaitu, untuk melindungi diri dari murka dan azab Allah subhanahu wa ta’ala. Caranya dengan menjalankan perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan menjauhi segala larangan-Nya. Itulah pengertian takwa.

Takwa adalah capaian tertinggi Ramadhan. Dan ketakwaan inilah yang menentukan derajat kita di sisi Allah.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (TQS al-Hujurat [49]: 13).

Sudahkah dengan upaya kita mendekatkan diri kepada Allah selama bulan Ramadan, telah menjadikan kita muslim yang bertakwa pasca bulan Ramadan, di 11 bulan lainnya? Yang dahulu suka bermaksiat, kini sudah bertobat. Yang beriman, makin dekat lagi kepada Allah.


Jangan Sombong

Yang dulu angkuh dan sombong, kini sudah menyadari bahwa angkuh dan sombong itu sikap tercela yang sangat dilarang dalam Islam bahkan ancamannyapun gak main-main 'tidak bakalan masuk surga' sebagaimana hadis Rasulullah SAW :
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91

"Menolak kebenaran dan meremehkan orang lain" inilah sombong. Kebenaran disini adalah yang datang dari Allah dan Rasul-Nya.


Jangan Pelit

Yang dulu pelit dan bakhil, kini sudah dermawan. Peduli dan hormat kepada orang tua dan kerabat. Peduli dengan anak yatim dan orang miskin dan dhu'afa yang hidupnya 'senin kamis' yang sangat membutuhkan uluran tangan dari kita yang mampu untuk bersedekah kepada mereka.

Pahala sedekah inilah yang Allah perlihatkan sejak di alam barzakh. Tidak heran, banyak mereka yang sudah di alam kubur itu menyesal dan ingin balik lagi kedunia walau sebentar untuk bersedekah dan menjadi orang salih. (Baca QS. Al-Munafiqun: 10).

Dan semoga pasca Ramadhan, kita umat Islam tambah semangat untuk beribadah. Shalat di awal waktu dan berjamaah. Rajin shalat sunnah, puasa sunnah, tekun baca shalawat nabi, tekun ngaji dan mengkaji kitab suci Al-Qur'an. Punya rasa 'ghirah' yang tinggi untuk berdakwah dan beramar makruf nahi munkar. Demi kemulian Islam dan umat Islam.


Takwa Bukan Musiman

Agar kita benar-benar menjadi 'insan muttaqiin' tentu kita dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya bukan hanya di bulan Ramadhan, tetapi juga di luar Ramadhan. Takwa itu tidak musiman. Karena ibadah yang paling disukai Allah adalah amal ibadah yang istiqamah terus-menerus walau sedikit (H.R.Al-Bukhari).

Terkait itu, ada seorang Ulama Salaf,Bisyr Al-Hafi mengingatkan :

ﺑﺌﺲ ﺍﻟﻘﻮﻡ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﻻ ﻳﻌﺮﻓﻮﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺭﻣﻀﺎﻥ. ان الصالح الذي يتعبد ويجتهد السنة كلها. (لطاءؤ المعارف )

Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan saja.” "Sesungguhnya orang shalih itu beribadah dan bersungguh-sungguh semua bulan".

Di manapun kita berada, dan kapanpun kita hidup, Rasulullah SAW menyuruh kita untuk bertakwa kepada Allah SWT:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: "اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ"

Artinya: "Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: 'Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan yang baik maka itu akan menghapuskannya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.'" (HR. Tirmidzi).

Buah takwa inilah yang akan kita bawa mati di alam barzakh hingga kita dibangkitkan di yaumil akhir. 

Wallahu a'lam. []

Kuala Tungkal, 4 Syawal 1446 H.


Abdul Mukti
Pemerhati Kehidupan Beragama

Opini

×
Berita Terbaru Update