TintaSiyasi.id-- Menurut Ibnu 'Arabi (w. 1240 M), seorang sufi besar dalam tradisi Islam, hakikat zakat bukan sekadar kewajiban finansial, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang mendalam. Ia melihat zakat sebagai proses penyucian dan pengembalian hak kepada Allah serta makhluk-Nya. Berikut beberapa aspek penting menurut perspektifnya:
1. Penyucian Jiwa (Tazkiyah an-Nafs)
o Zakat bukan hanya membersihkan harta dari hak orang lain, tetapi juga menyucikan hati dari sifat kikir dan keterikatan duniawi.
o Memberikan zakat melatih seseorang untuk tidak terikat dengan materi dan menumbuhkan sikap dermawan.
2. Kesempurnaan Iman dan Tauhid
o Ibnu 'Arabi menekankan bahwa zakat merupakan bagian dari perjalanan spiritual menuju kesempurnaan iman.
o Dengan zakat, seseorang mengakui bahwa segala yang dimilikinya hanyalah titipan Allah.
3. Tajalli (Manifestasi Ilahi dalam Amal Perbuatan)
o Dalam konsep wahdat al-wujud (kesatuan wujud), Ibnu 'Arabi melihat zakat sebagai manifestasi kasih sayang Allah di dunia.
o Orang yang berzakat berarti menjadi saluran rahmat Ilahi bagi sesama.
4. Zakat sebagai Perjalanan Menuju Makrifat
o Menurutnya, setiap ibadah memiliki hakikat batin.
o Hakikat zakat adalah membangun kesadaran bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Secara keseluruhan, Ibnu 'Arabi mengajarkan bahwa zakat bukan hanya tentang mengeluarkan sebagian harta, tetapi merupakan latihan spiritual untuk mencapai kesadaran ilahiah dan hubungan yang lebih dalam dengan Allah serta makhluk-Nya.
Zakat pada hakikatnya adalah syukur atas nikmat yang dicapai.
Ya, benar! Dalam perspektif tasawuf, termasuk menurut Ibnu 'Arabi, zakat pada hakikatnya adalah ungkapan syukur atas nikmat yang diberikan Allah. Syukur di sini bukan sekadar ucapan, tetapi diwujudkan dalam bentuk berbagi dan menyalurkan rezeki kepada yang berhak.
Makna Zakat sebagai Syukur
1. Pengakuan Bahwa Nikmat Berasal dari Allah
o Dengan berzakat, seseorang menunjukkan bahwa ia sadar bahwa semua rezeki yang diperolehnya adalah titipan Allah.
o Memberikan zakat berarti mengembalikan sebagian nikmat itu kepada yang berhak, sesuai dengan kehendak Allah.
2. Menghindari Kufur Nikmat
o Tidak menunaikan zakat sama dengan menahan hak orang lain dan bisa menjadi bentuk kufur nikmat (tidak bersyukur atas pemberian Allah).
o Orang yang bersyukur akan memanfaatkan hartanya sesuai dengan kehendak-Nya.
3. Bentuk Rasa Syukur yang Aktif
o Syukur tidak hanya diucapkan dengan lisan, tetapi dibuktikan dengan tindakan nyata.
o Zakat adalah salah satu bentuk syukur yang melibatkan harta, sebagaimana shalat adalah bentuk syukur yang melibatkan tubuh.
4. Mendapatkan Tambahan Nikmat
o Dalam Al-Qur’an, Allah berjanji:
"Jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian..." (QS. Ibrahim: 7)
o Salah satu cara bersyukur adalah berbagi dengan orang lain melalui zakat, yang justru akan mendatangkan keberkahan dan rezeki yang lebih banyak.
Kesimpulan
Zakat bukan hanya kewajiban, tetapi juga ekspresi syukur kepada Allah atas nikmat yang diberikan. Dengan berzakat, seseorang tidak hanya membersihkan hartanya tetapi juga menyempurnakan rasa syukurnya dan mendekatkan diri kepada Allah serta sesama.
Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)