TintaSiyasi.id-- Ya, benar! Dalam Islam, terdapat dua prinsip utama yang sangat penting, yaitu "Agama adalah Nasihat" dan "Agama itu Mudah." Kedua konsep ini mencerminkan esensi ajaran Islam yang penuh kasih sayang, bimbingan, dan kemudahan bagi manusia.
1. Agama adalah Nasehat (الدين النصيحة)
Hadis Nabi Muhammad ﷺ menyebutkan:
"Agama adalah nasehat." Kami bertanya, 'Untuk siapa?' Beliau menjawab, 'Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan umat Islam secara umum.'"
(HR. Muslim)
Maksud dari hadis ini adalah:
• Untuk Allah → Mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, menaati perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya.
• Untuk Kitab-Nya (Al-Qur'an) → Mengimani, memahami, dan mengamalkan isi Al-Qur'an.
• Untuk Rasul-Nya → Mengikuti sunnah Nabi dengan cinta dan penghormatan.
• Untuk Para Pemimpin Muslim → Memberikan nasihat yang baik dan mendukung kebaikan dalam kepemimpinan.
• Untuk Umat Islam secara umum → Saling menasihati dalam kebaikan, kejujuran, dan akhlak yang baik.
Maknanya:
• Agama bukan sekadar aturan, tetapi juga bimbingan agar manusia tetap berada di jalan yang benar.
• Nasehat dalam agama harus diberikan dengan hikmah, kelembutan, dan kasih sayang.
• Menjalankan agama dengan saling menasihati membantu umat dalam mencapai kebaikan bersama.
2. Agama Itu Mudah (إن الدين يسر)
Nabi ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya agama ini mudah. Tidaklah seseorang mempersulit dirinya dalam agama kecuali ia akan kalah. Maka bersikaplah lurus, mendekatkan diri (kepada kesempurnaan), berilah kabar gembira, dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan beribadah di waktu pagi, sore, dan sebagian malam." (HR. Bukhari)
Makna "Agama Itu Mudah":
• Islam tidak membebani di luar kemampuan manusia.
o Allah berfirman:
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286)
• Ada rukhsah (keringanan) dalam ibadah bagi mereka yang dalam kesulitan.
o Jika sakit, boleh shalat sambil duduk atau berbaring.
o Jika tidak mampu puasa karena alasan tertentu, boleh membayar fidyah.
• Islam mengajarkan keseimbangan, bukan ekstremisme.
o Tidak berlebihan dalam ibadah hingga mengabaikan hak tubuh dan keluarga.
Agama adalah nasehat, artinya Islam adalah bimbingan yang menuntun manusia menuju kebaikan dengan penuh kasih sayang.
Agama itu mudah, artinya Islam tidak dimaksudkan untuk menyulitkan, tetapi memberi jalan yang seimbang dan sesuai dengan kemampuan manusia.
Maka, seorang Muslim sebaiknya menjalankan agama dengan kesungguhan, keseimbangan, dan tetap menjaga akhlak yang baik dalam memberikan nasehat.
Sebaik-baik teman duduk di setiap waktu adalah buku.
Benar sekali! Buku adalah teman duduk terbaik karena membawa ilmu, wawasan, dan kebijaksanaan tanpa mengeluh atau bosan. Dalam Islam dan berbagai tradisi keilmuan, membaca dianggap sebagai pintu menuju kebijaksanaan dan kecerdasan.
Mengapa Buku adalah Teman Duduk Terbaik?
1. Sumber Ilmu dan Kebijaksanaan
• Buku menyimpan pengetahuan dari berbagai zaman dan peradaban.
• Membaca buku berarti mengambil pelajaran dari pengalaman orang-orang terdahulu.
2. Tidak Mengkhianati dan Selalu Setia
• Buku tidak pernah meninggalkan atau mengkhianati kita.
• Kapan pun kita membukanya, ia selalu siap memberikan manfaat.
3. Menemani di Segala Waktu
• Saat sendiri, buku menjadi teman yang menghibur.
• Dalam kesulitan, buku bisa menjadi sumber solusi dan inspirasi.
4. Meningkatkan Kualitas Diri
• Buku memperluas cara berpikir, memperkaya kosakata, dan melatih imajinasi.
• Membaca membangun kebiasaan berpikir kritis dan analitis.
5. Menjaga Pikiran Tetap Hidup
• Imam Syafi’i pernah berkata: "Jika engkau tidak menyibukkan dirimu dengan ilmu, maka hawa nafsumu akan menyibukkanmu dengan kebatilan."
• Membaca adalah cara menjaga pikiran tetap produktif dan bermanfaat.
Buku adalah teman yang selalu setia, tidak menuntut apa-apa, tetapi memberi segudang manfaat. Dengan membaca, kita bisa menjelajahi dunia, memperluas wawasan, dan semakin dekat dengan kebijaksanaan. Oleh karena itu, membiasakan diri membaca adalah salah satu kunci menuju kesuksesan dan kebijaksanaan hidup.
"Seorang yang membaca hidupnya akan lebih luas daripada yang hanya menatap dunia dengan matanya."
Oleh. Dr. Nasrul Syarif, M.Si. (Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo)