Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Untaian Nasihat Imam Junaid al-Baghdadi

Rabu, 26 Maret 2025 | 09:57 WIB Last Updated 2025-03-26T02:58:07Z
TintaSiyasi.id -- Imam Junaid al-Baghdadi berkata, "Tanda Allah berpaling dari seorang hamba adalah hamba tersebut disibukkan dengan sesuatu yang tidak berguna."

Kata-kata Imam Junaid al-Baghdadi ini mengandung hikmah yang mendalam. Beliau mengingatkan bahwa salah satu tanda seseorang dijauhkan dari rahmat Allah adalah ketika ia tenggelam dalam hal-hal yang tidak bermanfaat, baik untuk dunia maupun akhiratnya.

Pesan ini relevan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila seseorang terlalu sibuk dengan perkara yang tidak membawa manfaat, seperti membuang waktu dalam hiburan yang berlebihan, gosip atau perbuatan sia-sia, maka itu bisa menjadi tanda bahwa hatinya mulai lalai dari Allah. Sebaliknya, orang yang mendapatkan taufik dari Allah akan selalu terdorong untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat, baik dalam ibadah maupun aktivitas duniawi yang bernilai kebaikan.

Jalan menuju Allah menurut Imam Junaid Al-Baghdadi.
Imam Junaid al-Baghdadi, seorang tokoh besar dalam tasawuf, menjelaskan bahwa jalan menuju Allah bukan sekadar teori, tetapi sebuah perjalanan hati, jiwa, dan amal yang membutuhkan kesungguhan. Berikut beberapa prinsip utama dalam perjalanan menuju Allah menurut ajaran beliau:

1. Tauhid yang Murni
Imam Junaid menekankan pentingnya tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam segala hal—baik dalam ibadah, niat, maupun keyakinan. Baginya, seorang pencari Allah harus membersihkan hatinya dari segala bentuk ketergantungan kepada selain Allah.

2. Mujahadah (Bersungguh-sungguh dalam Ibadah)
Beliau berkata:
"Tidak ada jalan menuju Allah kecuali dengan usaha yang sungguh-sungguh (mujahadah) dalam menjalankan ketaatan dan meninggalkan hawa nafsu."
Artinya, seseorang harus berjuang melawan hawa nafsunya, menundukkan keinginan duniawi, dan fokus kepada Allah.

3. Ikhlas dalam Segala Amal
Imam Junaid mengajarkan bahwa setiap amal ibadah harus dilakukan hanya karena Allah. Amal yang tidak ikhlas akan sia-sia, meskipun tampak besar di mata manusia.

4. Tazkiyatun Nafs (Membersihkan Hati dan Jiwa)
Hati yang bersih dari penyakit seperti riya, sombong, hasad, dan cinta dunia akan lebih mudah menerima cahaya hidayah Allah. Imam Junaid menegaskan bahwa orang yang ingin dekat dengan Allah harus lebih banyak memperbaiki dirinya daripada menilai orang lain.

5. Tawakal dan Ridha kepada Allah
Seorang salik (pencari jalan Allah) harus memiliki tawakal (berserah diri kepada Allah) dan ridha (menerima segala ketetapan-Nya dengan lapang dada).

6. Mengikuti Sunnah Rasulullah ﷺ
Beliau berkata:
"Seluruh jalan menuju Allah tertutup, kecuali bagi mereka yang mengikuti jejak Rasulullah ﷺ."
Tasawuf yang diajarkan Imam Junaid bukanlah sekadar latihan spiritual tanpa dasar syariat. Justru, beliau menekankan bahwa tasawuf sejati harus berlandaskan Al-Qur’an dan Hadis.

7. Cinta dan Adab kepada Guru (Mursyid)
Dalam perjalanan spiritual, bimbingan seorang guru yang mursyid (bijaksana dan saleh) sangat penting. Imam Junaid sendiri berguru kepada banyak ulama besar, termasuk Abu Tsaur dan Sahl bin Abdullah.

Kesimpulan
Jalan menuju Allah menurut Imam Junaid al-Baghdadi adalah perjalanan hati yang bersih, amal yang ikhlas, mujahadah yang kuat, dan ketaatan yang sempurna kepada Allah dan Rasul-Nya.

Hakikat syukur adalah tidak menggunakan nikmat-nikmat Allah Swt. untuk berbuat maksiat kepada-Nya. Kata Imam Junaid al-Baghdadi.

Betul sekali, hakikat syukur bukan hanya sekadar mengucapkan "Alhamdulillah", tetapi juga menggunakan setiap nikmat yang Allah berikan untuk kebaikan dan ketaatan kepada-Nya.

Syukur dalam Pandangan Ulama
Imam Junaid al-Baghdadi pernah berkata:
"Syukur adalah ketika engkau tidak menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada-Nya."
Ini berarti bahwa orang yang benar-benar bersyukur akan menjaga diri dari menggunakan nikmat seperti harta, kesehatan, waktu, dan ilmu untuk hal-hal yang dilarang oleh Allah.

Tiga Dimensi Syukur

Para ulama membagi syukur ke dalam tiga aspek utama:
1. Syukur dengan Hati → Menyadari bahwa segala nikmat berasal dari Allah dan merasa puas dengan apa yang diberikan-Nya.
2. Syukur dengan Lisan → Mengucapkan pujian kepada Allah, seperti membaca Alhamdulillah, berbicara dengan baik, dan tidak mengeluh.
3. Syukur dengan Perbuatan → Menggunakan nikmat untuk ibadah dan amal baik, serta menjauhi kemaksiatan.

Contohnya:
Harta → Digunakan untuk sedekah dan membantu orang lain, bukan untuk hal haram.
Ilmu → Diamalkan dan diajarkan, bukan untuk kesombongan atau menyesatkan.
Kesehatan → Dipakai untuk beribadah dan berbuat baik, bukan untuk maksiat.

Balasan bagi Orang yang Bersyukur

Allah berjanji dalam Al-Qur’an:
"Jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepada kalian." (QS. Ibrahim: 7).

Sebaliknya, kufur nikmat akan membawa azab dan kesengsaraan, baik di dunia maupun di akhirat. Jadi, bentuk syukur tertinggi adalah menjaga diri dari maksiat dan menggunakan semua nikmat Allah untuk mendekat kepada-Nya.

Siapa yang membuka pintu niat yang baik dalam hatinya, Allah Swt. akan membukakan tujuh puluh pintu pertolongna untuknya, kata Imam Junaid al-Baghdadi. Kata-kata Imam Junaid al-Baghdadi ini mengandung hikmah mendalam tentang pentingnya niat yang baik dalam kehidupan seseorang.

Makna dan Hikmah

Niat adalah kunci segala perbuatan.
Jika seseorang memulai sesuatu dengan niat yang baik, entah dalam ibadah, pekerjaan atau hubungan sosial, maka Allah akan membukakan banyak pintu pertolongan yang tidak ia sangka.

Allah memberikan keberkahan kepada orang yang memiliki niat baik. Satu niat baik saja bisa mengundang 70 pintu pertolongan, yang bisa berupa kemudahan dalam urusan dunia dan akhirat, jalan keluar dari masalah atau bahkan kedekatan dengan Allah.

Kekuatan niat dalam mengubah hidup.
Banyak orang yang awalnya merasa sulit dalam suatu perkara, tetapi dengan niat baik dan tulus, Allah memberikan jalan keluar yang tidak terduga.

Contoh dalam Kehidupan:
1. Seorang yang berniat mencari nafkah halal, Allah mudahkan rezekinya.
2. Seorang yang berniat menuntut ilmu demi manfaat, Allah bukakan pemahaman dan hikmah baginya.
3. Seorang yang berniat memperbaiki diri, Allah akan memberikan lingkungan yang baik dan bimbingan.

Kesimpulan

Jika kita selalu memperbaiki niat kita, Allah akan membuka banyak kemudahan dan pertolongan. Mulailah setiap langkah dengan niat yang baik, karena dari satu niat itu, Allah bisa memberikan berkah yang luar biasa.

Dr. Nasrul Syarif M.Si 
Penulis Buku Gizi Spiritual. Dosen Pascasarjana UIT Lirboyo

Opini

×
Berita Terbaru Update