TintaSiyasi.id -- Pengamat Politik Dr. Ryan, M.Ag., menjelaskan umat Islam harus paham metode syar'i penegakan Daulah Islam yang dicontohkan Rasulullah.
"Umat Islam itu (harus) benar-benar memahami metode syar'i penegakan Daulah Islam atau penegakan khilafah, yang telah dicontohkan oleh baginda Rasul," ungkapnya di kanal YouTube Mercusuar Ummat Bedah Khilafah - Metode Syar'i Menegakkan Khilafah, Selasa (11/3/2025).
Ia mengatakan, gambaran, langkah, dan operasionalisasi, dalam menegakkan Islam, menegakkan Daulah Islam, dari sejak Mekkah sampai kemudian di Madinah. Dalam kitab Sirah Nabawiyah diantaranya yang ditulis oleh Syaikh ibnu hisyam yang bisa dilihat Rasulullah Saw. melakukan perjuangan dakwah sejak beliau menerima wahyu di Mekah dan sampai di Madinah (menegakkan Daulah Islam).
Ia menjelaskan sifat dakwah Rasulullah Saw. ada tiga. Pertama, bersifat pemikiran, intelektual, atau sifatnya fikriah. Kedua, sifatnya politis atau siyasiyah. Karena menyampaikan konsep pengaturan masyarakat dan menggalang dukungan agar menjadi kelompok yang terkuat atau dalam bahasa lain disebut dengan fi’ah Al aqwa, kekuatan yang paling dominan yang ada di tengah-tengah masyarakat, yang menawarkan konsep untuk mengatur masyarakat itu sendiri.
"Ketiga, tanpa kekerasan. Maka dari sini kita bisa melihat karakter ini tentu harus menjadi satu hal yang tidak boleh dilupakan, yang harus diteladani, bukan dengan cara-cara yang ada di luar itu, sehingga dari sini kalau kita kontekstualisasi penerapan metode syar'i dakwah Rasulullah Saw. pada saat ini kita harus mengawalinya dengan adanya kelompok dakwah yang mengikuti metode syar'i dakwah dari Rasulullah Saw," jelasnya.
Ia mengutip QS. Ali Imran ayat 104
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ١٠٤
"Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung".
"Kata kunci di dalam ayat ke 104 dari surah Ali Imran ini adalah kata umat, Syekh Atha bin Khalil mengatakan bahwa kata umat bermakna jamaah, jamaah itu artinya kelompok, menurut Imam Ar Raghib Al ashfahani mengatakan bahwa di dalam kata umat itu adalah sebuah jamaah yang mencintai ilmu dan amal shaloh dan mereka menjadi teladan bagi orang lain," urainya.
"Sesungguhnya makna jamaah ini kalau diperdalam akan mendapatkan bahwa kelompok atau jamaah dakwah semestinya berbentuk partai politik Islam, atau hizbun siyasiyun al islami, karena kelompok tersebut melakukan dua visi utama pertama, adalah melakukan melanjutkan kehidupan Islam dengan tegaknya syariah dalam naungan khilafah dan yang kedua ,adalah melakukan amar makruf nahi mungkar," sambungnya.
Ia menegaskan, amar makruf nahi mungkar yang paling utama, paling besar adalah dilakukan oleh partai politik Islam adalah tugas yang sangat mulia. "Fungsi utama dari partai politik Islam adalah pertama, melakukan pembinaan kepada umat dengan Islam, mencerdaskan, mencerahkan. Kedua, adalah amar makruf nahi mungkar kepada penguasa.
"Di sini kita bisa melihat keutamaan daripada amar makruf nahi mungkar pada penguasa sebagaimana sabda baginda Rasulullah SAW “Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah)," paparnya.
Ia menjelaskan, jihad amalan yang sangat luar biasa. Jihad yang paling utama dalam konteks menasehati penguasa yang zalim, maka ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa, menjadi tugas penting dari sebuah partai politik, dalam hadis yang lain Rasulullah SAW "Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan orang yang melawan penguasa kejam, ia melarang dan memerintah, namun akhirnya ia mati terbunuh." (HR Ath Thabarani)
Oleh karena itu, partai politik Islam ketika melakukan metode syar'i dakwah dari Rasulullah SAW ini maka melakukan tiga tahapan seperti yang dilakukan oleh Baginda Rasulullah SAW.
"Pertama adalah tahap pembinaan atau tasqip wa takwin jamaah, tahap interaksi dan perjuangan tafa’ul ma’al ummah wa kifah, tahap penerimaah kekuasaan dan penerapan hukum. Upaya ini sudah dilakukan oleh partai politik Islam yang istiqamah meneladani metode syar'i dakwah Rasulullah Saw.," ungkapnya.
Jika partai politik Islam tadi didukung umat dan para ahlul quwah khususnya mereka menjadi kelompok terkuat, maka khilafah alamin haji nubuwwah akan tegak kembali.
Ia memberikan gambaran jika khilafah tegak maka yang terjadi adalah khilafah akan menjadi yang pertama negara yang terluas wilayahnya dengan jumlah penduduk lebih dari dua miliar.
"Kedua, akan menjadi negara kedua yang terkuat militernya dan terbanyak pasukannya. Ketiga, akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar terbanyak sumber energinya dan output industrinya," terangnya.
Ia mengutip QS. An-Nur ayat 55 'Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai; dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Siapa yang kufur setelah (janji) tersebut, mereka itulah orang-orang fasik'
"Ada tiga kata kunci pertama adalah Allah akan menjadikan mereka berkuasa tidak sekedar merebut kekuasaan, dan yang kedua adalah Allah akan meneguhkan kekuasaan itu, dan yang ketiga menukar keadaan mereka dalam keadaan ketakutan yang menjadi keadaan aman sentosa penuh ya dengan kebahagiaan, maka kata kunci ini menjadi motivasi bagi kita semua agar kemudian upaya menegakkan khilafah itu senantiasa dilakukan dengan penuh kebahagiaan dan penuh dengan kesungguhan," paparnya.
Khilafah adalah kabar gembiraan Rasulullah SAW,. Beliau mengatakan tentang fase dimana umat Islam menghadapi lima tahapan.
"Nubuwwah ada pada kalian sampai Allah kehendaki, hingga dihilangkan ketika Dia menghendakinya. Kemudian khalifah diatas manhaj nubuwwah sampai Allah kehendaki, hingga dihilangkan ketika Dia mengehendakinya. Kemudian kerajaan yang menggigit sampai Allah kehendaki, hingga dihilangkan ketika Dia mengehendakinya. Kemudian, kerajaan yang diktator sampai Allah kehendaki, hingga dihilnagkan ketika Dia mengehendakinya. Kemudian Khalifah di atas Manhaj Nubuwwah. Kemudian beliau diam." (HR. Ahmad)
"Tahapan nubuwwah atau kenabian ini sudah berlalu, Rasulullah SAW nabi dan rasul terakhir. Kemudiandilanjutkan dengan Khilafah Abu Bakar As Siddiq, Umar Bin Khattab, Ustman bin Affan Radial, Ali Bin Abi Thalib, telah memberikan kita teladan yang begitu luar bagaimana menegakkan agama Allah, mereka menjadi penolong-penolong agama Allah. Kemudian pada setelah fase itu digantikan dengan Mulkan Adhon (kekuasaan yang menggigit) artinya mulai ada celah-celah kelemahan tetapi mereka tetap menjadi kekuatan yang mengayomi dunia pada saat itu, dan kemudian setelah runtuhnya khilafah yang terakhir di Istanbul pada tanggal 3 Maret 1924 masehi yang diruntuhkan oleh Kemal Pasha laknatullah yang dibantu Inggris penjajah pada saat itu, maka fase Mulkan Jabariyyan atau kemudian kekuasaan yang sifatnya tirani, diktator, memaksa baik dengan kapitalisme maupun juga kemudian dengan komunisme. Rasulullah SAW Beliau mengatakan di ujung hadis akan ada khilafah alamin haji nubuwah, khilafah bukan sekedar khilafah tetapi khilafah yang mengikuti metode kenabian, maka kemudian setelah itu beliau terdiam," paparnya.
Artinya, ia mengatakan, kabar gembira dari Rasul pasti akan terjadi, tetapi yang dibutuhkan dari umat Islam adalah menjadi bagian yang akan memberikan kontribusi, terlibat di dalam perjuangan, karena khilafah akan tegak dengan atau tanpa kita.
"Oleh karena itu kita berusaha untuk menjadi bagian, jamaah yang berusaha untuk secara istiqamah (memperjuangkan tegaknya khilafah) maka pertolongan Allah Swt. akan kemudian bisa kita jemput dengan tegaknya Islam secara Kaffah dan dalam naungan khilafah," pungkasnya.[] Alfia Purwanti