TintaSiyasi.id -- Ramadhan adalah bulan di mana Allah mencurahkan kasih sayang-Nya kepada manusia. Bulan di mana Allah mengobral pahala dan ampunan begitu banyak. Karena hal ini umat Islam bergembira menyambutnya. Sebagaimana pada masa Rasulullah SAW seluruh kaum Muslim begitu gembira menyambut dan menjalankan amalan di bulan suci Ramadhan.
Namun, tidak dengan saudara kita di belahan bumi yang lain. Mereka kaum Muslim di Palestina tidak leluasa beribadah di masjid Al-Aqsa karena pembatasan oleh tentara zionis. Zionis menerapkan pembatasan jamaah shalat di kompleks masjid Al-Aqsa selama Ramadhan dengan dalih keamanan.
Penduduk Palestina yang tinggal di Tepi Barat ingin melakukan ibadah di masjid Al-Aqsa tidak boleh memasuki Yerusalem. Pembatasan tersebut tidak berlaku hanya untuk perempuan Palestina yang usianya di atas 40 tahun dengan kartu identitas Palestina yang diberi izin untuk mengunjungi dan melaksanakan shalat di masjid (serambinews.com, 13/03/2025).
Meski begitu, warga Palestina tetap menunjukkan antusiasme untuk sholat dan iftar di Al-Quds. Lebih dari 80.000 jamaah menghadiri sholat Jum'at kedua di bulan suci ramadhan walaupun pasukan penduduk Israel begitu ketat menjaga di pintu masuk dan gerbang Al-Aqsa dan Kota Tua Yerusalem (voi.id, 15/03/2025).
Kembali Melanggar Perjanjian
Tidak cukup dengan pembatasan, mereka melanggar perjanjian gencatan senjata kembali dengan menyerangnya. Tercatat ada sekitar 420 korban dan 562 lainnya terluka saat warga sedang sahur.
Pada hari Jum'at (21/03/25), Hamas mengatakan korban bertambah mencapai 600 jiwa akibat pengeboman oleh Israel (sindonews.com, 21/03/2025).
Palestina Masih Tetap Terjajah
Sangat menyayat hati tentunya, saat kaum Muslim tidak leluasa beribadah di masjid Al Aqsa sementara sepatu kotor para zionis bebas menginjaknya. Gencatan senjata nan rapuh tidak bisa dijadikan solusi terbebasnya Palestina dari penjajahan yahudi.
Akan terus sama kondisinya saat penjajah masih bercokol di bumi Palestina. Penjajahan tidak akan pernah lenyap. Meski berbagai resolusi telah dikeluarkan Dewan Keamanan PBB, juga kecaman yang dilontarkan oleh Liga Arab, OKI, negeri-negeri Muslim dan dunia tak ada satupun yang serius mengusir zionis dari Palestina. Tak ada satupun militer yang mereka kerahkan untuk membebaskan Al-Quds.
Sikap para pemimpin kaum Muslim demikian bukan karena tidak punya kekuatan melainkan terhalang sekat nasionalisme. Nasionalisme lah yang membuat mereka berfikir bahwa masalah Al-Quds bukan masalah umat Islam, melainkan hanya masalah Palestina. Mereka disibukkan dengan kekuasaan mereka sendiri.
Khilafah, Solusi Bebasnya Palestina
Sebagaimana realita yang nampak, bahwa kebebasan Palestina tidak bisa diharapkan dari PBB, Liga Arab, OKI, apalagi Barat. Pembebasan Palestina harus dilakukan oleh seluruh kaum muslimin dunia bukan hanya Palestina. Karena kewajiban membebaskan tanah suci ini adalah kewajiban seluruh kaum Muslim. Sudah sepantasnya kaum Muslim di seluruh penjuru dunia bergerak membebaskan Palestina.
Walaupun para penjajah disokong oleh AS dan dibantu Barat yang membuat makar tapi ingatlah bahwa Allah sebaik-baik pembuat makar. Allah SWT berfirman “Mereka (orang-orang kafir) membuat tipu daya dan Allah pun membalas tipu daya (mereka). Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (TQS. Ali-Imran [3]: 54).
Oleh karena itu, bulan Ramadhan adalah bulan perjuangan sebagaimana para pendahulu kita melakukan perang pada bulan Ramadhan. Aktivitas jihad fisabilillah ini tidak bisa terwujud tanpa keberadaan khilafah. Maka menegakkan khilafah adalah jalan bebasnya Palestina dengan mengirimkan tentara untuk berjihad fisabilillah. Wallahu a'lam bishshawab. []
Leni Setiani
(Aktivis Muslimah)