"Jadi dwi fungsi Nabi Muhammad, satu beliau itu
sebagai nabi, yang kedua sebagai pemimpin negara yang mempunya kekuasaan,"
ujarnya di kanal Youtube One Ummah bertajuk Membumikan Al-Quran Dalam
Kehidupan Bernegara, Ahad (23/03/2025).
Lanjutnya, ia menegaskan bahwasanya untuk menjalankan
syariat Islam yang bersumber dari Al-Qur’an, sumber utamanya yang pasti
memerlukan institusi negara.
"Ketika di Makkah, Rasulullah saw. hanya sebagai
nabi tidak punya posisi sebagai pemimpin yang memegang otoritas kekuasaan, tetapi
setelah berhijrah beliau mempunyai dwi fungsi sebagai pemimpin dan nabi,"
ungkapnya.
Sehingga ia menilai di dalam Islam kekuasaan tidak
dapat dipisahkan oleh agama. “Berbeda halnya dengan pola pikir sekuler yang
memisahkan antara agama dan kekuasaan,” lugasnya.
"Sebenarnya sekularisme ini kalau kita pahami
secara mendalam yaitu pemisahan agama dari kekuasaan secara khusus atau secara
umum pemisahan agama dari semua aspek kehidupan. Itu nampaknya perlu kita baca
ulang secara kritis," terangnya.
Lebih lanjut, ia memandang ungkapan pemisahan agama
dari kekuasaan tidak cocok untuk agama Islam. Namun, sebaliknya lebih cocok
disebut pemisahan agama Kristen dari kehidupan.
"Jadi kalau itu dianalogikan dibuat generalisasi
dari suatu setting historis Eropa itu tidak pas untuk agama Islam. Kalau
untuk agama Kristen mungkin pas, itu memang agama yang sekuler, artinya tidak
mengharuskan negara untuk bisa berkristen secara kaffah," bebernya.
Ia melihat sosok utama agama Nasrani ialah Nabi Isa
as., di mana Nabi Isa as. tidak pernah menjadi pemimpin selayaknya Nabi
Muhammad saw.. Kala itu, Nabi Isa as. hidup dalam konteks Kerajaan Romawi, jadi
hanya memiliki otoritas agama namun untuk otoritas negara bukan ditangannya.
"Makanya Nabi Isa as. pernah didatangi oleh
orang-orang Bani Israel pada waktu itu karena kaisar ingin memungut pajak. Nah,
orang-orang itu lantas (berpikir), ‘Wah, ini kok kaisar mau minta-minta pajak
padahal kita harusnya menjalankan ajaran Nabi Isa.’ Akhirnya mereka datang ke Nabi
Isa, ’Ini bagaimana kok kaisar minta pajak, bagaimana menurut agama kita?’ Nabi
Isa menjawab, ‘Berikanlah hak Tuhan kepada Tuhan dan berikanlah hak kaisar
kepada kaisar," jelasnya.
"Artinya memang Nabi Isa as. tidak punya otoritas
politik sepanjang hidupnya, berbeda sekali dengan Rasulullah," tandasnya.[]
Taufan