Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Ahli Fikih: Dwi Fungsi Rasulullah Saw. sebagai Nabi dan Pemimpin Negara

Kamis, 27 Maret 2025 | 12:18 WIB Last Updated 2025-03-27T05:21:39Z

Tintasiyasi.ID  -- Ahli Fikih Islam K.H. M. Shiddiq Al-Jawi, M.Si. menjelaskan bahwa Rasulullah saw. Memiliki dwi fungsi yakni menjadi seorang nabi serta juga menjadi seorang pemimpin negara.

 

"Jadi dwi fungsi Nabi Muhammad, satu beliau itu sebagai nabi, yang kedua sebagai pemimpin negara yang mempunya kekuasaan," ujarnya di kanal Youtube One Ummah bertajuk Membumikan Al-Quran Dalam Kehidupan Bernegara, Ahad (23/03/2025).

 

Lanjutnya, ia menegaskan bahwasanya untuk menjalankan syariat Islam yang bersumber dari Al-Qur’an, sumber utamanya yang pasti memerlukan institusi negara.

 

"Ketika di Makkah, Rasulullah saw. hanya sebagai nabi tidak punya posisi sebagai pemimpin yang memegang otoritas kekuasaan, tetapi setelah berhijrah beliau mempunyai dwi fungsi sebagai pemimpin dan nabi," ungkapnya.

 

Sehingga ia menilai di dalam Islam kekuasaan tidak dapat dipisahkan oleh agama. “Berbeda halnya dengan pola pikir sekuler yang memisahkan antara agama dan kekuasaan,” lugasnya.

 

"Sebenarnya sekularisme ini kalau kita pahami secara mendalam yaitu pemisahan agama dari kekuasaan secara khusus atau secara umum pemisahan agama dari semua aspek kehidupan. Itu nampaknya perlu kita baca ulang secara kritis," terangnya.

 

Lebih lanjut, ia memandang ungkapan pemisahan agama dari kekuasaan tidak cocok untuk agama Islam. Namun, sebaliknya lebih cocok disebut pemisahan agama Kristen dari kehidupan.

 

"Jadi kalau itu dianalogikan dibuat generalisasi dari suatu setting historis Eropa itu tidak pas untuk agama Islam. Kalau untuk agama Kristen mungkin pas, itu memang agama yang sekuler, artinya tidak mengharuskan negara untuk bisa berkristen secara kaffah," bebernya.

 

Ia melihat sosok utama agama Nasrani ialah Nabi Isa as., di mana Nabi Isa as. tidak pernah menjadi pemimpin selayaknya Nabi Muhammad saw.. Kala itu, Nabi Isa as. hidup dalam konteks Kerajaan Romawi, jadi hanya memiliki otoritas agama namun untuk otoritas negara bukan ditangannya.

 

"Makanya Nabi Isa as. pernah didatangi oleh orang-orang Bani Israel pada waktu itu karena kaisar ingin memungut pajak. Nah, orang-orang itu lantas (berpikir), ‘Wah, ini kok kaisar mau minta-minta pajak padahal kita harusnya menjalankan ajaran Nabi Isa.’ Akhirnya mereka datang ke Nabi Isa, ’Ini bagaimana kok kaisar minta pajak, bagaimana menurut agama kita?’ Nabi Isa menjawab, ‘Berikanlah hak Tuhan kepada Tuhan dan berikanlah hak kaisar kepada kaisar," jelasnya.

 

"Artinya memang Nabi Isa as. tidak punya otoritas politik sepanjang hidupnya, berbeda sekali dengan Rasulullah," tandasnya.[] Taufan

Opini

×
Berita Terbaru Update